Ini fakta yang sering saya temukan.
Bahkan pernah terjadi pada siswa dan anak saya sendiri.
Mereka tidak kuat untuk pergi sekolah karena kesehatannya agak terganggu
Akhirnya mereka minta izin tidak pergi sekolah dengan alasan sakit.
Tapi giliran main main dirumah atau keluar rumah, mereka tetap bisa dan malah bersemangat.
Gejala apakah ini?
Menurut saya, itu tandanya mereka tidak tertarik belajar di sekolahnya.
Kenpa tidak tertarik?
Menurut saya setidaknya ada 3 sebab:
Pertama,
Karena sekolah (formal) bukan lembaga pencerdasan.
Tapi lembaga pembodohan masyarakat.
Karena yang dilakukan oleh Guru dan Kepala Sekolah, hanya mencari uang dengan kedok pendidikan. Akibatnya, guru malas mengajar. Apalagi belajar meningkatkan kompetensinya. Para guru bukan seorang inspirator. Tapi hanya kejar setoran sebagai prasyarat sebagai seorang staf pengajar.
Akibatnya, nyaris tidak ada yang menarik bagi siswa.
Karena tidak ada aura antusiasme pada guru.
Tidak ada letupan energi yang memancar dalam diri para guru.
Tidak ada daya pikat magnetisnya,
yang bisa menginspirasi kemauan siswa untuk tenggelam dalam suasana belajar.
Kedua,
Karena sekolah terlalu memuja formalitas
Padahal, proses belajar, hanya bisa terjadi secara sukarela.
Gairah belajar siswa hanya bisa terangsang dalam keadaan fun, dalam kondisi diri mereka enjoy, dimana itu hanya akan terjadi ketika segala ritual formalitas sekolah diminimalisir.
Tapi apa yang terjadi?
Saya berani menyatakan, unsur formalitas sekolah, lebih menonjol dari unsur substansialnya. Akibatnya, lembaga sekolah menjadi ajang kepura-puraan. Pura-pura profesional, pura-pura berwibawa dan pura-pura baik. Begitulah rata-rata bentuk hubungan guru dan siswa dalam ruang balajar. Hubungan bos dan majikan. Bukan relasi yang bersifat patnership. Bukan sebagai fasilitator alih alih teman sharing. Akibatnya, secara prikologis posisi siswa sebagai terdakwa dan guru sebagai hakim yang Maha Benar.
Ketiga,
Karena sekolah formal adalah menara gading kehidupan
Segala sesuatu akan berarti ketika ada hubungannya dengan kehidupan kongkrit seseorang. Karena itu langsung menyentuh dunia dalam dirinya, dan dalam kaitannya dengan kehidupan sosialnya. Tapi lembaga sekolah, lebih menonjol unsur pemujaan tekstualnya ketimbang unsur kontekstualnya. Apa yang dipelajari adalah demi seremonial kurikulum dan ritual ujian. Dalam rangka mengejar setoran. Setoran tanggung jawab formal bagi sekolah dan setoran tanggung jawab mengejar angka-angka bagi siswa. Dan semua itu, sudah menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Bahwa nilai, bahwa angka-angka, adalah lambang sukses sekolah dan lambang prestasi seorang pelajar.
Keempat,
Sudahlah. Berhentilah bicara pendidikan.
Berhentilah bicara moral. Mubazir bicara kebangsaan.
Marilah kita berani mengakui. Bahwa dunia pendidikan nasional, hanya dunia pembusukan karakter. Dunia artifisial yang melambung ke langit ketujuh.
Dengan kata lain,
Sekolah, adalah lembaga pembodohan masyarakat secara terstruktur yang jarang disadari. Karena itu jika ingin anak-anak kita cerdas dan berkembang dalam pengertian sebenarnya, jangan belenggu mereka dengan sekolah formal. Dan jadikanlah sekolah, kepala sekolah dan guru sebagai bahan olok-olok. Bila perlu, mari kita bakar gedung sekolah dengan riang gembira, dan ganti dengan gedung baru sebagai tempat judi dan maksiat.
Dan terakhir,
Apakah menurut anda tulisan ini masih waras?
Erianto Anas
http://blogernas.blogspot.com/2012/11/kenapa-sekolah-formal-itu-omong-kosong.html
Home
»
»Unlabelled
» Mengapa Sekolah Formal itu Hanya Omong Kosong
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar